27 July

Parenting

Sebagai orangtua, Ayah-Bunda tentu ingin ananda berhasil di berbagai bidang. Secara alamiah, orangtua cenderung melindungi dan memberikan apapun yang dibutuhkan anak. Padahal, ada kalanya sikap ini menjauhkan anak dari potensi sesungguhnya.

Berikut tujuh kebiasaan buruk orangtua dalam mengasuh yang dapat menjadi penghalang anak-anak untuk menjadi pemimpin hebat pada masa depan, baik bagi orang banyak maupun bagi diri sendiri.

1. Tidak membiarkan mengambil risiko

Hidup di dunia memang penuh bahaya. Sudah naluri orang tua melindungi anaknya. Namun, walaupun itu tugas dan kewajiban orangtua, tapi jika berlebihan dapat menjauhkan anak dari risiko yang sebenarnya baik untuk mereka. Psikolog Eropa menemukan bahwa anak-anak yang sering dilarang main di luar rumah dan tidak diberikan izin berkegiatan fisik yang berisiko terluka, cenderung memiliki fobia ketika dewasa. Anak-anak butuh jatuh agar dapat belajar bahwa kegagalan adalah sesuatu yang normal. Mereka butuh berhubungan dengan orang lain agar bisa merasakan kekayaan emosi yang dimilikinya. Jika orangtua menghilangkan risiko ini dari kehidupan anak, tanpa sadar sedang membesarkan pemimpin masa depan yang sombong dan memiliki harga diri rendah.

2. Menolong terlalu cepat

Ketika kita menolong anak terlalu dini atau terlalu banyak, sesungguhnya kita sedang menghilangkan kebutuhan mereka untuk menemukan arah dan menyelesaikan permasalahan mereka sendiri. Cepat atau lambat mereka akan terbiasa mendapatkan pertolongan dari orangtuanya. Padahal cepat atau lambat mereka pun akan menjadi orang dewasa. Ketika kita tidak bisa lagi menolong mereka, mereka akan menjadi orang dewasa yang tidak cakap.

3. Terlalu mudah memberikan pujian

Kecenderungan pendidikan saat ini, anak yang berpartisipasi dalam suatu kegiatan biasanya diberikan penghargaan. Hal itu mungkin akan membuat anak merasa spesial. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini ternyata memiliki konsekuensi tersendiri. Ketika melihat Ayah dan Ibu sebagai satu-satunya orang yang berpikir bahwa mereka luar biasa, anak akan meragukan objektivitas Anda sebagai orangtuanya. Ketika kita terlalu mudah memuji sikap mereka dan melupakan tindakan buruk mereka, anak-anak akan belajar menyontek, bersikap berlebihan, bahkan berbohong untuk menghindari kenyataan yang sulit karena mereka tidak dipersiapkan untuk menghadapinya.

4. Membiarkan rasa bersalah mengambil alih

Anak-anak tidak harus mencintai Anda sepanjang waktu. Ada kalanya mereka harus merasa kecewa kepada Anda. Perasaan ini tidak akan dapat dirasakan jika Anda memanjakan mereka. Jangan ragu-ragu untuk mengatakan “tidak” atau “bukan sekarang”. Biarkan mereka berjuang untuk mendapatkan apa yang benar-benar mereka inginkan dan butuhkan.

5. Tidak berbagi kesalahan masa lalu

Anak remaja yang sehat dan cerdas siap melebarkan sayapnya. Mereka harus melakukan segala hal dengan kemampuan mereka sendiri. Sebagai orang dewasa, orangtua harus membiarkan mereka. Namun, bukan berarti orangtua tidak dapat membantu saat diperlukan. Berbagi kesalahan yang relevan dengan pengalaman yang sedang dialami anak, khususnya ketika Anda masih seusia mereka, dapat membantu anak mengambil keputusan tepat. Mereka harus dipersiapkan pada konsekuensi atas segala pilihan yang diambil. Ceritakan bagaimana perasaan Anda ketika menghadapi hal serupa, apa alasan dibalik tindakan yang Anda ambil, dan apa hasil yang Anda terima. Ingatlah, kita bukan satu-satunya orang yang dapat memengaruhi anak-anak. Untuk itu kita harus menjadi pengaruh terbaik bagi anak.

6. Kecerdasan bukan kedewasaan

Kecerdasan sering digunakan sebagai alat ukur kedewasaan anak. Dengan demikian orangtua berpikir bahwa anak yang cerdas pasti sudah siap menghadapi dunia. Hal Ini jelas salah. Hanya karena mereka memiliki bakat di satu bidang tertentu, bukan berarti bakat ini mampu memenuhi seluruh bidang kehidupan mereka. Tentu saja tidak ada panduan yang rinci mengenai kapan anak-anak dapat diberikan kebebasan tertentu. Namun, Anda dapat melihat anak lain yang ada di sekitar anak Anda sebagai perbandingan. Jika mereka lebih mandiri dan bisa melakukan lebih banyak hal dibandingkan anak Anda, Anda mungkin harus berpikir ulang mengenai kebebasan yang akan diberikan kepada anak Anda.

7. Kita tidak memberi contoh

Orangtua berkewajiban menjadi contoh bagi kehidupan anak. Hal ini akan membantu mereka memiliki karakter tersendiri, mandiri, dan bertanggung jawab atas setiap kata-kata dan perbuatan. Sebagai pemimpin di rumah sendiri, orangtua dapat memulainya dengan berkata jujur. Kebohongan, dengan dalih kebaikan sekalipun, cepat atau lambat akan muncul ke permukaan. Hal itu sedikit demi sedikit mengikis karakter yang ingin Anda bentuk.

Jika Anda pikir bahwa tindakan yang diambil dipahami oleh orang dewasa, anak Anda pun pasti akan menyadarinya. Ajak mereka untuk menjadi sukarelawan dalam membantu lingkungannya. Hal ini merupakan cara efektif mengajari anak memberi tanpa pamrih.

[disarikan dari Forbes melalui mizan.com]

Posting Terbaru

27 July 2016

Augmented Reality Halo Balita

27 July 2016

Belajar Membaca

Archive