Manfaat Merangkak bagi Bayi yang Mulai Menjelajahi Dunia

Oleh MinDira -Z | 10 Agustus 2026 di Artikel
Bagikan artikel ini

Suara orang tua memanggil, mainan favorit yang digerakkan dari kejauhan, hingga bayi yang justru berhenti dan mengamati suasana menjadi bagian menarik dari Baby Crawling Race di Tenth Avenue Mall, Bandung. Meski dikemas sebagai perlombaan, momen ini sebenarnya memperlihatkan sesuatu yang lebih bermakna: setiap bayi sedang belajar menjelajahi dunia dengan caranya sendiri.

Merangkak bukan hanya tentang bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Di balik gerakan kecil tersebut, terdapat proses belajar yang melibatkan tubuh, rasa ingin tahu, dan interaksi emosional bersama orang tua.

Ketika Lantai Menjadi Ruang Belajar Pertama

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi umumnya mulai belajar merangkak dan berdiri pada usia 8–10 bulan. Namun, setiap bayi memiliki pola perkembangan yang berbeda. Ada yang merangkak dengan tangan dan lutut, merayap menggunakan perut, bergeser dengan bokong, atau langsung tertarik belajar berdiri.

Saat merangkak, bayi menggunakan tangan, kaki, bahu, punggung, dan bagian tengah tubuhnya secara bersamaan. Aktivitas ini membantu melatih kekuatan tubuh serta koordinasi gerak. Bayi juga belajar memperkirakan jarak, menentukan arah, dan menyesuaikan posisi ketika menemukan benda di depannya.

Sebuah tinjauan penelitian mengenai pengalaman bergerak pada bayi menunjukkan bahwa kemampuan berpindah secara mandiri berkaitan dengan perkembangan cara bayi mengamati dan berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan kata lain, lantai dapat menjadi ruang belajar pertama tempat bayi mengenal sebab, tujuan, dan keberanian untuk mencoba.

Kehadiran Orang Tua Membuatnya Lebih Bermakna

Dokumentasi Baby Crawling Race memperlihatkan bahwa orang tua bukan sekadar menunggu di garis akhir. Senyum, panggilan lembut, tepuk tangan, dan tangan yang direntangkan menjadi sumber rasa aman bagi si Kecil. Inilah yang membuat stimulasi motorik sekaligus menjadi kesempatan membangun bonding.

Parents dapat menciptakan pengalaman serupa di rumah tanpa perlu membuat lintasan khusus. Siapkan alas yang datar dan tidak licin, lalu letakkan mainan atau buku bergambar sedikit di luar jangkauan bayi. Duduklah sejajar dengannya, panggil namanya, dan berikan waktu untuk menentukan cara mendekat.

Hindari menarik tubuh bayi atau memaksanya mencapai benda tersebut. Pastikan pula area bermain bebas dari kabel, benda kecil, sudut tajam, dan furnitur yang mudah jatuh. Jika bayi terlihat lelah atau tidak nyaman, hentikan permainan dan lanjutkan pada kesempatan lain.

Dari Bergerak Menuju Membaca Bersama

Buku bergambar dapat menjadi benda menarik yang mengundang bayi untuk mendekat. Namun, manfaatnya tidak berhenti ketika buku berhasil diraih. Parents dapat memangku si Kecil, membuka halaman bersama, menunjukkan gambar, dan menirukan suara yang ada dalam cerita. Peralihan sederhana dari bergerak menuju membaca membuat aktivitas terasa lebih utuh dan hangat.

Salah satu pilihan yang dapat dikenalkan adalah Baby All Baby, paket buku interaktif untuk anak usia 0–3 tahun. Ceritanya sederhana, ilustrasinya menarik, dan halamannya dapat dieksplorasi bersama. Buku pun tidak hanya menjadi media stimulasi, tetapi juga jembatan menuju percakapan, sentuhan, dan kedekatan emosional antara orang tua dan bayi.

Kenali koleksi Baby All Baby dan pilihan cara mendapatkannya dengan klik di sini.

Tags